Menjawab Institut Pleksibel Banget

Assalaamu’alaykum semua, bagaimana kabarnya?

Oke, mungkin untuk berbagai kalangan, judul di atas sudah sangat familiar sekali ya. Banyak singkatan  plesetan IPB diluaran sana, Institut Pleksibel Banget contohnya. Bahkan yang lebih dahsyat lagi ada Institut Perbankan Bogor. Ada apakah sebenarnya dibalik kedua singkatan ini?

Ada asap maka ada api. Berkaca dari pribahasa tersebut, pastinya ada penyebab munculnya singkatan-singkatan tersebut. IPB yang notabenenya Institut Pertanian “seharusnya” menghasilkan lulusan-lulusan yang berkecimpung di bidang pertanian. Namun, ternyata banyak lulusan-lulusannya bekerja di bank serta bidang-bidang lain yang “dianggap” terpisah dengan pertanian. Sehingga munculah singkatan-singkatan semacam tadi.

Pertanyaannya, apakah hal tersebut salah? Kalau iya, siapa yang salah? IPB, mahasiswanya, atau tempat yang menerima lulusan IPB bekerja? Oke, pertama kita lihat dari sudut penerima kerja. Bank yang akan saya pilih, karena singkatan Institut Perbankan Bogor terlihat sudah memasyarakat sekali. Memangnya apa yang dilakukan oleh Bank?

Diambil dari Wikipedia (2009), Bank adalah lembaga yang menerima deposit dari nasabah dan menyalurkan dalam bentuk pinjaman. Profit yang diperoleh dari Bank adalah bunga dari pinjaman yang diberikan kepada peminjam. Kalau dalam agama islam, hal ini disebut riba. Lalu bagaimana profit berupa bunga akan diperoleh? Tentunya dari pinjaman yang berhasil dibayarkan beserta bunga-bunganya. Lalu siapa atau apa saja yang diberi pinjaman oleh Bank? Pinjaman bisa diberikan ke perorangan untuk tujuan pribadi atau bisnis dan perusahaan skala kecil hingga besar. Ternyata, usaha-usaha yang banyak dibiayai Bank adalah perkebunan, kelapa sawit contohnya. Hal ini diakui sendiri oleh salah seorang Direktur Bank Mandiri pada acara seminar MAKSI (Masyarakat Kelapa Sawit Indonesia), mohon maaf karena saya lupa nama penulisnya.

Sekarang kita akan sedikit berpikir dengan pertanyaan yang akan saya berikan. Bagaimana anda mengetahui apakah suatu usaha/dagang dapat menghasilkan suatu keuntungan? Apa saja resiko yang dapat terjadi pada kegiatan usaha tersebut? Apa masalah-masalah operasional yang dapat terjadi? Dan apakah orang yang tidak mengerti tentang kegiatan usaha tersebut dapat menjawab pernyaan-pertanyaan yang saya berikan? Logis bagi Bank untuk mengetahui prospek usaha yang akan dia biayai, karena itu menyangkut keuntungan yang akan mereka peroleh. Sebagai pemberi modal ke usaha-usaha pertanian, siapa rekan yang sebaiknya mereka miliki untuk mengatasi pertanyaan-pertanyaan di atas? Apakah seorang dengan background Ekonomi Studi Pembangunan dan Manajemen saja? Menurut saya tidak, Bank harus mempunyai seorang ahli atau sarjana pertanian untuk itu.

Pernyataan ini tentu saja bukan hanya pendapat saya, itu juga yang dikatakan oleh Direktur Mandiri di acara seminar tersebut. Bahkan dia bangga menyebutkan banyak karyawannya memiliki background sarjana pertanian tentunya untuk mengatasi hal ini. Secara logis saja, apakah orang di luar jurusan pertanian dapat melihat kejanggalan pada suatu proposal? Ketika sebuah proposal peminjaman datang dengan usulan untuk membuat perkebunan kelapa sawit di tanah gambut, tentunya orang pertanian tahu apa yang janggal dibalik usulan tersebut dan tentunya akan memberi saran untuk menolak proposal tersebut agar si Bank tidak rugi.

Ada lagi pertanyaan yang mengganjal? Oke ada satu lagi, “Kan mereka selama kuliah belajar tentang pertanian, bagaimana dengan ilmu manajemen, perbankan, ekonomi, dan akuntasi serta ilmu-ilmu yang dibutuhkan sebagai karyawan Bank?”. Ternyata sekarang ini banyak perusahaan yang mengadakan program pelatihan untuk karyawan yang diterimanya dari berbagai background untuk memenuhi standar mereka, contohnya bank. Banyak perusahaan yang sekarang ini lebih prefer untuk meng-hire tanpa mempedulikan jurusannya lalu memberi pelatihan yang mereka kehendaki selama durasi tertentu. Contohnya, program MT (management trainee) di Bank Mandiri, CIMB, dll. Perusahaan Coca – cola juga menerapkan hal yang sama seperti ini. Lagi pula ternyata, setelah bekerja ada perusahaan yang membiayai karyawan mereka untuk sekolah S2. Selain itu, ada lulusan IPB yang sudah mendapatkan tentang analisa studi kelayakan, perencanaan proyek, dan analisa resiko. Sehingga hal semacam ini seharusnya bukan menjadi masalah lagi. Idealnya, dengan keberadaan sarjana pertanian di perbankan dapat mendorong sektor pertanian dari sisi pembiayaannya.

Setelah semua penjelasan saya tentang Bank dan sarjana pertanian, menurut Anda apakah keberadaan sarjana pertanian masih menjadi sesuatu yang mengganjal?

Ada lagi nih yang cukup nyeleneh. Bagaimana keberadaan sarjana pertanian di dunia IT. Karena memang ada beberapa lulusan IPB yang akhirnya bekerja di bidang IT, tapi apa hubungannya? Country Director IBM untuk Indonesia, Tan Widjaya, pada seminar Biztech di Auditorium Abdul Muis Nasution mengungkapkan kalau IT merupakan bagian supporting. Seiring majunya teknologi saat ini bahkan pertanian pun membutuhkan support dari IT. Sehingga sudah bukan jamannya lagi untuk memisahkan IT dengan pertanian. Contohnya: ada aplikasi yang dikebangkan IBM untuk pengelolaan kebun kelapa sawit. Masalahnya sama seperti Bank, untuk memenuhi kebutuhan tersebut siapa yang mengenal kegiatan pertanian selain orang yang mengerti pertanian tersebut atau orang pertanian. Karena Bapak Tan Widjaya sendiri mengakui kalau orang IT tidak mengerti hal itu dan mereka membutuhkan orang pertanian untuk itu. Begitu pula dengan sistem IT yang dipasang di pabrik-pabrik agroindustri baik pangan maupun non-pangan. Tentunya mereka membutuhkan lulusan yang mengerti di bidang tersebut, tidak hanya orang ber-background Informatika atau Sistem Informasi.

Pasar lapangan kerja itu sangat terbuka. Wajar bila perusahaan senang merekrut karyawan yang sesuai dengan spesifikasinya seperti halnya kita senang membeli barang dengan harga dan spesifikasi yang cocok dengan kita.

Lalu apakah IPB  sebenarnya, mengapa tidak 100% lulusan mereka bekerja di bidang pertanian. Tugas perguruan tinggi negeri dijabarkan dalam tri dharma pendidikan, yaitu: Penelitian, Pendidikan, dan Pengabdian Masyarakat. Untuk penelitian sendiri, IPB masih dapat dikatakan handal untuk menghasilkan karya di bidang pertanian. Silakan rujuk ke 104 inovasi indonesia untuk mengetahui hal tersebut. Di antara hasil riset IPB yang terkenal ialah, Pepaya California. Pepaya California sendiri nama aslinya ialah Pepaya Calina hasil pemuliaan salah seorang Dosen IPB. Namanya diganti oleh pedagang dengan alasan agar namanya lebih menjual. Selain itu, banyak varietas-varietas padi yang sudah IPB kembangkan. IPB juga memproduksi vaksin flu burung sendiri. Uniknya ada penelitian dosen IPB tentang peternakan ayam yang dikontrol secara otomatis menggunakan teknologi WEB. Mungkin beberapa tahun ke depan kita akan rasakan bertani seperti halnya bermain Farmville.

Di bidang pendidikan juga IPB masih menghasilkan sarjana-sarjana di bidang pertanian (juga peternakan dan perikanan). Sekedar tambahan, IPB memiliki Fakultas Ekonomi dan Manajemen juga Departemen Ilmu Komputer, yang mungkin menambah banyak alumni IPB di sektor perbankan dan IT. IPB juga masih giat untuk melakukan kegiatan pengabdian masyarakat. Saat ini, IPB mempunyai 17 desa lingkar kampus yang aktif dalam binaan IPB. Selain itu, IPB rutin mengadakan kegiatan tahunan untuk mengirimkan mahasiswa-mahasiswanya untuk melakukan kegiatan pengabdian masyarakat di berbagai desa di Indonesia. Untuk lebih lengkapnya silakan kunjungi website lppm.ipb.ac.id. Dari penjabaran di atas saya masih melihat IPB layak untuk jadi Institut Pertanian dan beroperasi sebagaimana Perguruan Tinggi. Apakah IPB harus ditutup seperti artikel fitnah yang beredar beberapa bulan lalu, saya rasa tidak.

Analisa dari segi mahasiswa. Mau diakui atau tidak, secara jujur kejadian salah masuk jurusan memang nyata. Ada yang alasannya tidak diterima di perguruan tinggi pilihan pertamanya, faktor orang tua, faktor teman, dan hal-hal lainnya. Tetapi saya rasa hal ini tidak hanya terjadi di IPB.  Untuk kasus tersebut dan mahasiswa tersebut akhirnya berkuliah di IPB, tidak dapat dibohongi kalau pertanian memang bukan passion mereka sebenarnya. Apabila kasus ini tetap terbawa selama kuliah, setelah lulus mereka akan cenderung enggan memilih bidang pertanian dan memilih bidang yang mereka sukai. Kalau anda menemui kasus seperti ini, berarti anda sedang hoki. Tetapi jangan lupakan bahwa banyak dari kami yang masih gigih bergelut di bidang pertanian.

Jadi apakah isi artikel saya kali ini cukup menjawab judul yang saya tawarkan di atas? Mungkin ada pembaca yang kurang puas dan bertanya-tanya tentang perilaku Indonesia yang suka mengimpor bahan hasil pertanian padahal sudah ada IPB. Tetapi tulisan saya kali ini tidak bertujuan untuk membahas pertanyaan itu. Harus ada tulisan tersendiri yang membahas pertanyaan tadi dan butuh waktu bagi saya untuk mengumpulkan materi untuk membuat tulisan tadi. Sebagai gambaran umum saja, kita mempunyai perguruan tinggi yang cukup beragam. Ada yang fokus di pertanian ada yang fokus di teknologi. Namun, kita masih mengimpor tidak hanya komoditas pertanian, banyak teknologi yang masih kita impor. Mungkin perguruan tinggi tidak dapat langsung disalahkan untuk permasalahan ini. Saya rasa ada faktor lain yang membentuk perilaku hobi mengimpor kita. Dan saya tidak akan menjawab pertanyaan-pertanyaan di kolom komentar yang memiliki nada serupa dengan pertanyaan tadi.

Oke sekian dulu artikel dari saya. Terima kasih sudah membaca.

Wassalaam.

Kopi Luwak: Yakin dari Luwak?

Assalamu’alaykum wr wb.

Bagaimana kabarnya teman-teman hari ini? Ada yang lagi nugas, ngerjain laporan, atau hal -hal lainnya? Mungkin secangkir kopi bisa pilihan untuk menemani teman-teman semua saat beraktivitas.

Banyak jenis dan macam kopi, salah satunya yang paling terkenal ialah kopi luwak. Bukan hanya karena harga nya yang tinggi tetapi juga cita rasa luar biasa yang dimiliki oleh kopi luwak ini. Tetapi tidak dapat dipungkiri harga yang mahal ini juga disebabkan oleh biaya perawatan “mesin pengolah” ciptaan Alloh yang sangat luar biasa, alias si luwak itu sendiri. Ada permasalahan lain pula, ke-halal-an kopi luwak ini juga dipertanyakan. Sebab, biji kopi yang diambil merupakaan biji kopi sisa pencernaan yang terdapat pada feses binatang mamalia ini. Ada jawaban melegakan dari MUI tentang hal ini. Menurut fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) No. 07/MUI/07/2010 kopi luwak, biji kopi yang dimakan luwak dan keluar utuh dinyatakan halal dengan syarat biji kopi masih terbungkus kulit tanduk da dapat tumbuh jika ditanam kembali.

Namun tetap saja satu pertanyaan dapat terbesit dari pikiran kita “bagaimana kalau kopi luwak yang kita minum tidak memenuhi standar di atas?”. Lagi-lagi ada jawaban melegakan yang sangat berhubungan dengan judul di atas. Kini tidak hanya sang luwak yang dapat menghasilkan kopi luwak. “Luwak Cuma Titip Nama” dan “Musang Absen, Hadir Bakteri” adalah dua judul artikel majalah Trubus edisi 518 yang memancing Rice and Shine untuk menulis artikel ini.

Luwak kini punya saingan, yaitu enzim protease yang dapat kita peroleh dari pepaya yaitu papain dan bakteri asam laktat pada sistem pencernaan luwak. Penggunaan enzim papain ini merupakan penelitian Ir Beni Hidayat MSi dari Politeknik Negeri Lampung. Menurut Hidayat (dalam Trubus, 2013), proses dominan yang terjadi pada biji kopi dalam perut luwak yaitu proses pemecahan protein. Hal ini diperkuat oleh hasil riset PS Jotish dari Tropical Botanic Garden and Research Institut (dalam Trubus, 2013), pepaya merupakan buah yang paling banyak dimakan oleh luwak. Kopi hasil fermentasi enzim papain ini memperoleh hasil terbaik dengan konsentrasi enzim sebesar 0,5% dengan waktu perendaman 48 jam.

Bagaimana dengan aksi para bakteri? Witono (dalam Trubus, 2013), menemukan ada 4 bakteri pada pencernaan luwak yang mampu mengerjakan pembuatan kopi luwak ini di luar perut luwak, yaitu:  Leuconostoc mesenteroides, Leuconostoc paramesenteriodes, Lactobacilus plantarum, dan Lactobacilus brevis. Keempat bakteri tersebut dapat menghasilkan kopi yang sangat mirip dengan kopi luwak dengan waktu fermentasi 18 jam. Hal ini sudah dibuktikan dengan uji organoleptik kopi menggunakan standar Specialty Cofee Association of America (SCAA) dan kopi hasil kultivasi ini mendapatkan poin sebesar 80,50 sedangkan kopi luwak yang asli 84,50.

Penemuan di atas merupakan hal yang sangat hebat tentunya. Selain karena para luwak kini bisa beristirahat dengan tenang menikmati masa liburnya, harga produksi “kopi luwak” menjadi jauh lebih ekonomis. Penikmat kopi luwak -yang beragama muslim terutama- tidak lagi harus was-was dengan kopi ini, karena sudah ada alternatif teknik produksi yang lebih tidak membuat ambigu. 

Ini yang namanya luwak :) Lucu juga ya. Kini mereka bisa menikmati liburan.

 

 

mrajaihsan118:

Keren juga sih ini.

Originally posted on Catatan Dahlan Iskan:

Senin, 11 Februari 2013
Manufacturing Hope 64

Ketika buah impor dari RRT membanjiri pasar Indonesia, apa yang harus kita perbuat? Mencegah saja dengan cara melarang atau mengenakan bea masuk yang tinggi tentu tidak cukup. Apalagi, ada ketentuan internasional yang tidak sembarangan bisa dilanggar.

Mengimbau agar tidak menyajikan buah impor memang baik, tapi juga belum cukup. Bersumpah untuk tidak makan buah impor seperti yang dilakukan dengan gagah berani oleh bupati Kulonprogo yang dokter itu memang heroik, tapi juga masih perlu jutaan hero lainnya.

Apa yang bisa dilakukan BUMN? Sebagai korporasi besar, BUMN bisa membantu banyak. Melalui aksi-aksi korporasi yang nyata. Misalnya terjun ke agrobuah secara besar-besaran dengan pendekatan korporasi.

Indonesia sebenarnya tidak perlu bersaing frontal dengan Tiongkok. Terutama di bidang buah. Dua negara besar itu bisa ambil posisi saling isi dan saling melengkapi. Tiongkok dengan empat musimnya memiliki kelemahan pokok: tidak mungkin bisa memproduksi buah tropis. Sebaliknya, Indonesia, negara tropis yang…

View original 653 more words

Teknologi Industri Pertanian Kami dan Agro-Industrial Technology Mereka

Tulisan ini hasil dari sedikit pemikiran setelah mengunjungi website universitas pertanian yang  tersohor di negara kerajaan pertanian Asia Tenggara. Indonesia? Mungkin julukan tadi lebih tepat disematkan untuk kerajaan Thailand.  Mengapa Thailand? Sudah tidak dapat dipungkiri kalau buah-buahan yang terkenal di pasar Indonesia baik modern maupun tradisional memiliki embel-embel negara Thailand. Sebut saja durian montong. Bahkan bila anda menulis duren di laman google maka yang muncul adalah durian montong, bukan durian medan atau durian lainnya yang terkenal dan menggunakan nama yang berasal dari Indonesia. Terdengar kabar juga bahwa, pasar Eropa untuk buah-buahan tropika dijuarai oleh Thailand.

Lalu apa hubungannya dengan universitas tadi? Tentunya timbul suatu implikasi pada pikiran kita, “berarti universitas pertanian di negeri tersebut bisa dibilang handal dong ?”. Mungkin saja iya. Selain dibuktikan dengan karya nyata Thailand di bidang agribisnis dan agroindustri yang cemerlang, salah satu asisten praktikum yang saya sering ajak diskusi tentang ini pun meng-iya-kan pemikiran tadi. Mungkin kedua fakta tersebut cukup untuk memvalidasi pemikiran saya. Nama universitas ini ialah Kasetsart University. Universitas yang kakak asisten saya sebut sebagai IPB nya Thailand.

Saya yang merasa bahwa universitas tersebut adalah tempat yang ideal untuk melanjutkan study saya, akhirnya mencoba untuk “berjalan-jalan” di laman Kasetsart University.Seketika takjub setelah melihat mereka memiliki fakultas teknologi agro-industri “Faculty of Agro-Industrial Technology“. “Jangan-jangan di sana memang tempat yang pas untuk melanjutkan studi saya”, itu kata-kata yang timbul dalam pikiran saya sambil membuka laman fakultas tersebut. Saya langsung bisa mengetahui bahwa di fakultas tersebut terdapat 5 program studi untuk master degree segera setelah lamannya terbuka. Kelima program studi itu, adalah: bioteknologi, ilmu dan teknologi pangan, material dan teknologi pengemasan, ilmu tekstil, serta manajemen dan teknologi agroindustri.

Oke, saya yang penasaran lalu membuka hampir semua tautan program studi yang terdapat dalam laman tersebut. Saya semakin tertarik, karena mata kuliah yang mereka tawarkan benar-benar fokus dan mendalam untuk bidang nya masing-masing. Bioteknologi yang mempelajari teknologi bioproses baik untuk mengolah hasil kegiatan pertanian maupun limbahnya, material dan teknologi pengemasan yang fokus mempelajari material kemasan, kontak material kemasan, cara pengemasan dan lainnya, serta manajemen dan teknologi agroindustri yang sangat mirip dengan TSI (teknik dan sistem industri) pada umumnya namun sangat berfokus pada kegiatan agroindustri. Hasil “jalan-jalan” saya tersebut membuat saya semakin tertarik pada Faculty of Agro-Industrial Technology, Kasetsart University.

Selain rasa takjub, saya secara sadar membandingkan fakultas tersebut dengan departemen saya. Pertama, nama yang digunakan. Teknologi industri pertanian yang memiliki arti luas diberikan pada satu departemen di tempat saya berkuliah dan menjadi nama satu fakultas yang mengampu 5 departemen di Kasetsart. Kedua,otomatis di departemen TIN IPB mahasiswa memelajari semua hal berkaitan tentang agroindustri dari proses, sistem, manajemen, hingga lingkungan sedangkan di KU beberapa subjek tersebut dibagi ke beberapa program studi. Wah sakti dong anak TIN? Mungkin iya juga tidak. Banyaknya subjek yang kami pelajari dalam kurun waktu 4 tahun (sama dengan strata 1 pada umunya) membuat ilmu yang dipelajari tidak mendalam dan hanya menyentuh permukaan.

Ada celetukan dari beberapa dosen yang saya ingat. Pak Djatna bilang,” Di TIN ini harus bisa semuanya tapi akhirnya gak ada yang bener-bener bisa”. Kira-kira begitulah yang saya tangkap. Pak Egum juga bilang, ” TIN IPB ini komplit. Kalau biasanya teknik industri hanya dikaitkan dengan operation research dan manajemen, di sini kalian belajar tentang proses, bioproses dan lingkungan. Saking lengkapnya sampai kalian bingung mau kemana.”. Jujur saya bingung. Beberapa kali saya berpikir, saya harus bagaimana. Fokus kami kemana?. Memangnya kenapa semua subjek tersebut hanya diampu oleh satu departemen, yaitu departemen kami, TIN. Kenapa Fakultas Teknologi Pertanian? Kenapa bukan Fakultas Teknologi Industri Pertanian.

Apakah seorang penyandang gelar S.TP dari TIN IPB harus menguasai semua subjek bahasan mengenai teknologi, industri, dan pertanian? Ego, gengsi, atau suatu keharusan? Kenapa tidak dipercayakan pada beberapa departemen. Lalu departemen-departemen ini menjadi elemen dari sebuah sistem terintegrasi dalam satu tujuan, untuk memajukan agroindustri atau umumnya pertanian Indonesia? Apa bisa kita kaitkan keberhasilan Thailand salah satunya disebabkan oleh hal yang disebut fokus ini dan ketertinggalan kita karena suatu yang kita sebut “hanya pada permukaan”?

Ya itu tadi sekilas analisa yang sangat dangkal dari seorang mahasiswa semester 3. Entah apa yang bisa membuat dia menulis hal seperti di atas. Setidaknya ada angin segar untuk pertanyaan di atas yang merupakan perkataan dosen, Pak Djatna. Beliau bilang bahwa sekarang enak, kami bisa mengetahui semua hal. Waktu beliau pertama kali melamar kerja beliau cukup malu saat ditanya oleh pewawancara tentang perencanaan proyek industri dan yang beliau mengerti hanya dari segi analisis biayanya saja tanpa tahu sisi teknisnya  (kalau tidak salah), karena dulu beliau hanya mengambil mata kuliah-mata kuliah TSI (waktu itu mata kuliah di TIN bisa dipilih apa yang mau diambil dan tidak). Selain itu, pernah ada kesimpulan dari renungan saya tentang stream, boleh memilih salah satu stream tapi sangat bijaksana kalau kita dapat mengetaui semua aspeknya. Apa yang salah tentang pemahaman yang holistik? Mungkin saja itu yang dapat menunjang atau menambah kemampuan kita pada stream yang kita pilih. Lagipula untuk masalah “tidak fokus” ini, kakak asisten praktikum saya pernah bilang, “Bu indah bilang, kalau kamu ingin ilmunya mendalam, ambil saja S2″. 

Cukup terpecahkan beberapa kerisauan saya sebelumnya. Itu tindakan yang saya ambil nanti, melanjutkan studi ke S2. Kasetsart University? Aamiin. Tapi dimanapun S2 saya nanti dan bidang apapun nanti semoga itu yang terbaik untuk saya. Semoga kedepannya, Indonesia bisa jadi rival sengit Thailand di bidang agribisnis dan agroindustri bahkan jadi juara. Semoga seluruh komponen baik pemerintah, bisnis atau industri, serta institusi pendidikan dan penelitan dapat bersatu dan saling menghilangkan gap serta ego untuk mewujudkan hal ini. Pesan saya untuk pembaca,” Apapun jurusan anda dan universitas anda mari kembali kenali apa potensi dan kebutuhan negara ini dan mari sama-sama kita bangun Indonesia kita.”. Terima kasih :)

Buah Pala Haram untuk Dikonsumsi? ( diambil dari www.pengusahamuslim.com)

 

Pertanyaan:

Apakah hukum menggunakan buah pala sebagai bumbu masakan? Dan apakah diperbolehkan menjualnya di toko-toko ataukah tidak? Ataukah tidak diperbolehkan untuk menjual dan mengonsumsinya sebagaimana khamr?

Jawaban:

Pohon pala sudah dikenal sejak jaman dahulu kala dan buahnya pun telah lama digunakan sebagai salah satu bumbu rempah untuk menambah aroma dan citarasa masakan. Bangsa Mesir kuno juga menggunakan pala sebagai obat sakit perut dan untuk mengeluarkan angin.

Pohon pala mampu tumbuh hingga mencapai ketinggian sekitar 10 meter dan selalu berdaun hijau. Buahnya memiliki bentuk mirip seperti buah pir, namun ketika sudah matang, buah tersebut akan diselimuti oleh cangkang/kulit yang keras dan inilah yang dikatakan buah pala. Pohon ini tumbuh di daerah tropis seperti India, Indonesia dan Sri Lanka.

Pengaruh (efek) yang dihasilkan buah ini ialah seperti halnya pengaruh ganja. Jika dikonsumsi dalam jumlah besar maka seseorang akan mengalami gangguan pada pendengarannya (berdenging), sembelit (susah buang air besar), kesulitan untuk buang air kecil, diliputi kecemasan dan tegang (mengalami stress), terganggunya sistem syaraf pusat, dan bahkan mampu menyebabkan kematian.

Adapun berkenaan dengan hukumnya, maka para ulama berbeda pendapat dan terbagi kepada dua pendapat:

Jumhur (mayoritas) ulama berpendapat haramnya menggunakan buah pala baik dalam jumlah sedikit maupun banyak.

Sedangkan ulama yang lain berpendapat bolehnya menggunakan buah pala dalam jumlah sedikit bila dicampurkan dengan bahan-bahan yang lain.

Ibnu Hajar al-Haytami (wafat 974 H) berpendapat:

Ketika terjadi perselisihan antara ulama Haramain (Mekah dan Madinah) dan ulama Mesir mengenai kehalalan dan keharaman buah pala, maka muncul pertanyaan: adakah di antara para imam atau para pengikutnya yang menyatakan haramnya mengonsumsi buah pala?

Dan jawaban ringkasnya adalah seperti yang dinyatakan secara jelas oleh Syaikhul Islam Ibnu Daqiq al-‘Ied, bahwasanya ia merupakan sesuatu yang memabukkan.

Ibnu al-‘Imad berpendapat lebih jauh dan memandang bahwa ia sebanding dengan ganja (hasyisy).

Para pengikut mazhab Maliki, Syafi’i dan Hambali bersepakat, bahwa buah pala tersebut merupakan sesuatu yang memabukkan dan sebagaimana disebutkan dalam kaidah umum:

كل مسكر خمر ، وكل خمر حرام

“Setiap yang memabukkan adalah khamr dan setiap khamr adalah haram.”

Adapun pengikut mazhab Hanafi, mereka memandang bahwa pala ini bisa digolongkan semacam khamr ataupun seperti narkotika. Dan semuanya bisa menganggu atau merusak akal, sehingga hukumnya haram {akhir kutipan}.

Lihat kitab Az-Zawaajir ‘an Iqtiraab al-Kabaa’ir (1/212) dan Al-Mukhaddiraat oleh Muhammad Abdul Maqshud (halaman 90).

Dalam konferensi Lembaga Fiqih Kedokteran (An-Nadwah Al-Fiqhiyyah Al-Thibbiyyah) yang ke-8 mengenai “Pandangan Islam dalam Beberapa Masalah-masalah Kesehatan” dengan sub-bahasan “Bahan-bahan yang Haram dan Najis dalam Makanan dan Obat-obatan” yang di adakan di Kuwait, 22-24 Dzulhijjah 1415H (22-24 Mei 1995), mereka berpendapat:

Bahan-bahan narkotika adalah terlarang (haram) dan tidak diperbolehkan untuk mengkonsumsinya kecuali untuk tujuan pengobatan tertentu dimana takaran pemakaiannya berdasarkan ketentuan dokter dan murni tanpa adanya campuran bahan (kimia) lainnya.

Tidaklah mengapa menggunakan buah pala sebagai penyedap rasa suatu masakan, selama dalam jumlah yang sedikit, dan tidak memabukkan atau menghilangkan kesadaran akal.

Syaikh Dr. Wahbah al-Zuhaili berkata,

“Tidak terlarang menggunakan sedikit pala sebagai bumbu penyedap baik pada makanan, kue dan sejenisnya namun menjadi terlarang (haram) bila banyak jumlahnya, karena akan menjadikan orang tersebut mabuk. Namun yang lebih selamat adalah pendapat yang melarangnya walaupun dicampur dengan bahan yang lain dan meskipun jumlahnya sedikit, karena ‘setiap yang memabukkan dalam jumlah yang banyak, maka yang sedikitnya pun haram‘.”

Sebagai informasi bahwa buah pala –baik dalam bentuk biji ataupun bubuk- terlarang untuk diimpor atau dibawa ke negara Arab Saudi dan hanya diperbolehkan untuk mengimpor bubuk pala bila telah dicampur dengan bahan rempah-rempah lainnya dalam prosentasi yang diijinkan, tidak lebih dari 20% saja. Allahu A’lam.

Islam Q&A
Fatwa Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid
(Diambil dari http://www.islamqa.com/en/​ref/39408)
Artikel www.pengusahamuslim.com

Kacang komak bisa gantikan kedelai (dikutip dari http://www.antaranews.com)

Bogor (ANTARA News) – Kacang komak (Lablab purpureus (L.) Sweet) dapat menjadi alternatif pengganti kedelai dalam memproduksi tempe dan tahu.

Dosen Fakultas Teknologi Pertanian Institut Pertanian Bogor Dr Arif Hartoyo mengemukakan, Kacang Komak memungkinkan untuk mengurangi impor kedelai, katanya saat ditemui, Selasa.

Kedelai bisa digantikan oleh kacang-kacang lain seperti salah satunya kacang komak. Kacang Komak berasal dari India, sedangkan kedelai dibawa oleh China.

Di Indonesia Kacang Komak ini telah dikembangkan di Probolinggo. Kacangnya mirip kedelai dengan sumber protein 20 hingga 27 persen.

“Keunggulan komak, ia merupakan jenis tanaman yang tumbuh baik di daerah marjinal dan tandus, tidak butuh input produksi yang banyak serta produksi tinggi dan tahan hama penyakit,” katanya.

Kacang Komak memiliki dua jenis yakni komak hitam dan komak kuning. Dari hasil penelitian (2003-2011) yang dilakukannya, Arif menemukan Komak digunak untuk pangan fungsional.

Ia mengatakan, tempe dari kacang komak cukup bagus, memiliki kandungan gizi air sebesar 9,29 persen, protein 21,42 persen, lemak 0,98 persen, karbohidrat 64,49 persen dan abu sebesar 3,83 persen.

“Kandungan komponen fungsional kacang komak terdiri dari serat pangan, oligosakarida, glubulin 7 S dan 11 S, fitosterol dan flavonoid,” katanya.

Pembuatan tempe kacang komak juga telah diujicobakan. Dengan mengkonsumsi tempe berbahan kacang komak dapat menjadi anti kolesterol.

“Isolat protein kacang komak mempunyai sifat fungsional pengolahan mirip dengan isolat protein kedelai komersial (Supro) dengan sifat fungsional pengolahan memiliki daya serap air, daya serap minyak, daya emulsi, kapasitas busa dan stabilitas busa,” ujarnya.

Pada bagian lain penjelasannya, ia menyebutkan impor kedelai Indonesia sudah berlangsung sejak 2006 dengan jumlah yang cukup tinggi yakni 60 hingga 70 persen setiap tahunnya.

Impor kedelai ini untuk menutupi produksi kedelai dalam negeri yang terus turun.

Dalam pemaparannya, pada tahun 2006 kebutuhan kedelai dalam negeri sebesar 1,88 juta ton.

Kebutuhan itu dipasok dari produksi kedelai dalam negeri sebesar 0,75 juta ton, dan impor 1,13 juta ton.  Jumlahnya persentase produksi terhadap kebutuhan dalam negeri sebesar 39,8 persen.

Jumlah itu terus meningkat, pada tahun 2010. Tingkat kebutuhan kedelai dalam negeri sebesar 2,65 juta ton dipasok dari produksi dalam negeri sebesar 0,91 juta ton dan impor 1,74 juta ton dengan persentasi produksi terhadap kebutuhan dalam negeri sebesar 34,3 persen.

Ketergantungan impor kedelai Indonesia semakin meningkat, sehingga harganya kian mahal menyebabkan krisis tempe tahu kembali terulang.

Dijelaskannya, kedelai dimanfaatkan untuk pembuatan tempe, tahu, kecap, susu kedelai, isolat atau konsentrat protein, TVP (texturized vegetable protein), makanan bayi, dan pangan olahan lainnya.

“Kita sebenarnya bisa lepas dari ketergantungan impor. Krisis kedelai ini bisa ditangani asal pemerintah mau, kita dapat mendorong peningkatan produksi dalam negeri,” katanya.

Di Indonesia, ada dua jenis kacang kedelai yakni kedelai hitam dan kuning. Perkebunan kedelai kuning ditemukan di Jawa Timur, sedangkan kedelai hitam terdapat di Nusa Tenggara Barat.
(ANT)
Editor: AA Ariwibowo

Aslinya Tempe Bukan dari Kedelai, Tapi… (dikutip dari http://www.republika.co.id)

Aslinya Tempe Bukan dari Kedelai, Tapi...

REPUBLIKA.CO.ID, JEMBER — Pakar pertanian dari Universitas Jember, Prof Dr Achmad Subagio MAgr, mengatakan, bahan aslinya tempe bukanlah kedelai. Menurutnya, bahan asli tempe di masa lalu adalah kara. 

“Tempe itu asli buatan Indonesia, tapi kedelai tidak. Kedelai itu bawaan dari Cina yang kemudian juga dibuat tahu. Dulunya, tempe itu dibuat dari kara,” katanyadi Jember, Jawa Timur, Senin (30/7).

Dikatakannya, kara adalah asli tanaman tropis dan bisa tumbuh di tanah marjinal. “India sudah mengembangkan tanaman kara ini dan hasilnya bagus. Sementara untuk kedelai merupakan tanaman subtropis, sehingga di Indonesia produksinya tidak akan bisa maksimal,” kata penemu beras cerdas dari singkong ini.

Lulusan perguruan tinggi di Jepang ini mengemukakan bahwa dari sisi protein, kara di Jawa disebut koro, tidak berbeda jauh dengan kedelai. Dari sisi pola tanam, kara lebih murah karena hampir tidak memerlukan pemupukan. Selain itu, pohonnya juga bisa tumbuh lagi setelah dibabat.

Menurut dia, walaupun direkayasa seperti apa pun, tanaman kedelai di Indonesia tidak akan bisa bersaing dengan produksi negara subtropis. Produksi kedelai di Indonesia tidak akan pernah bisa mencapai dua ton per hektare.

Karena itu, menurut dia, sangat tidak tepat jika menghadapi kenyataan meroketnya harga kedelai saat ini, sejumlah pemerintah daerah mendorong petani untuk berbondong-bondong menanam kedelai. “Makanya sekarang perlu didorong untuk pembuatan tempe dari kara ini. Jenis kara ini di Indonesia ratusan, karena satu jenis saja variannya sangat banyak,” katanya.

Ia bercerita bahwa era 1970-an dirinya masih merasakan tempe kara. Karena semuanya fokus ke kedelai, maka tempe kara tidak ada, termasuk tempe benguk. Menurut dia, untuk mengembangkan tempe kara saat ini memang tidak mudah, karena ketersediaan bahan bakunya sangat sedikit. Namun demikian, hal itu seharusnya dijadikan pendorong oleh pemerintah dan masyarakat untuk menanam bahan pangan yang sesuai dengan iklim tropis.

“Untung sekarang kami masih menemukan biji-biji kara dalam berbagai jenis, kalau tidak kan sayang. Kara ini memiliki banyak kelebihan dan kandungan karbohidratnya tinggi. Selain untuk tempe, banyak kegunaan kara ini, seperti untuk saus, kecap, penyedap rasa, susu dan lainnya,” katanya. Saat ini, kata dia, FTP Unej sedang melakukan percobaan pembuataan tempe kara untuk menyikapi masalah tingginya harga kedelai.

 
Redaktur: Dewi Mardiani
Sumber: Antara
 
Foto tanaman kara/koro (Canavalia ensiformis)
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 411 other followers