KOPI: Secangkir Semangat Budaya Dunia

Siapa yang tidak kenal minuman hitam dengan rasa dan aroma yang khas ini? Kopi untuk semangat di pagi hari, kopi teman berbincang bersama teman di sore hari, dan kopi untuk menemani kita mengerjakan tugas-tugas  dalam tuntutan deadline pada malam hari. Minuman ini memang sudah sangat akrab sekali di kehidupan kita semua. Kopi pula sepertinya sudah sangat membudaya sekali di Indonesia. Bahkan tiap daerah bukan hanya di Indonesia memiliki cara penyajian yang khas. Tetapi tahukah teman-teman bagaimana kopi yang biasa kita nikmati sampai ke meja makan atau meja kerja kita?

Kopi digolongkan ke dalam bahan penyegar. Kopi mengandung zat bernama kafein yang dapat membuat otak mengeluarkan hormon epinefirin yang dapat menaikan detang jantung,  meninggikan tekanan, menambah penyaluran darah ke otot-otot, mengurangi penyaluran darah ke kulit dan organ dalam, dan mengeluarkan glukosa dari hati. Lebih jauh, kafeina juga menaikkan permukaan neurotransmiter dopamin di otak (wikipedia.org). Maka tak heran apabila setelah mengonsumsi minuman lezat ini kita akan merasa segar dan tidak mengantuk. Banyak juga studi yang memaparkan dampak positif dari konsumsi kopi yang rutin. Namun kafein yang terkandung dalam kopi juga dipercaya dapat memberi dampak buruk seperti ketergantungan dan lain-lain. Sehingga ada pula kopi-kopi dalam kemasan yang sudah dikurangi atau dihilangkan kandungan kafein nya yang biasa disebut kopi dekafeinasi.

Tanaman kopi sendiri sampai ke Indonesia dibawa oleh Belanda. Kopi sendiri pertama kali ditemukan oleh bangsa Ethiopia di benua Afrika (wikipedia.org). Lambat laun minuman ini menjadi terkenal dan menjadi komoditas yang sangat menguntungkan. Sehingga bangsa Belanda membawa tanaman kopi tersebut agar dapat ditanam secara besar-besaran. Terbukti hingga sekarang pun kopi menjadi komoditas kebanggaan Indonesia. Indonesia berada dalam peringkat 5 besar sebagai negara pengekspor kopi. Kopi Indonesia digemari di dunia internasional.

Ada dua jenis biji kopi yang paling mahsyur di dunia, yaitu: robusta dan arabika. Dua jenis kopi ini pula yang dibawa Belanda ke Indonesia. Walau pada awal-awal masa penanamannya tanaman kopi arabika banyak yang mati terkena hama Hemileia vastatrix atau akrab disebut karat kopi. Akhirnya para ahli tanaman dari Belanda saat itu mengenalkan jenis baru tanaman kopi yaitu liberika yang lebih tahan terhadap hama karat kopi. Namun dalam perjalanannya arabika lebih ekonomis daripada liberika sehingga tanaman kopi liberika sudah tidak terdengar lagi saat ini.

Biji kopi robusta memiliki perbedaan dengan arabika. Selain tanaman kopi arabika baiknya ditanam di dataran pada ketinggian 1000 dpl dan robusta dapat ditanam di dataran yang lebih rendah dari itu, kopi robusta lebih keras daripada arabika. Daerah-daerah yang terkenal dengan kopi arabika nya yaitu Aceh (Gayo arabica), Sidhikalang, Mandailing, dataran-dataran tinggi jawa, dan tanah toraja. Konon katanya secangkir kopi yang berasal dari jawa ini menginspirasi nama sebuah bahasa pemrograman,yaitu “Java”.  Sedangkan kopi robusta lazim diproduksi di daerah Lampung, Bali, dan lain-lain. Kadang kopi robusta dan arabika tidak dijual terpisah. Para produsen kopi memiliki racikannya masing-masing untuk campuran kopi robusta dan arabika agar menghasilkan rasa dan aroma yang berbeda atau khas.

Biji kopi yang dipanen tidak serta merta dapat dihidangkan di meja kerja anda tetapi harus melalui beberapa tahap pengolahan terlebih dahulu. Setelah dipanen, biji kopi disortasi untuk menentukan kualitas biji-biji kopi yang dipanen. Lalu biji kopi dikeringkan dan dilepaskan dari cangkangnya. Pada proses penggilingan, biji kopi mengalami fermentasi singkat. Setelah itu biji kopi dipanggang. Biji kopi yang sudah dipanggang dapat dikemas dan dijual biasa disebut bean coffee namun ada beberapa yang digiling “grind”  lagi terlebih dahulu atau biasa disebut ground coffee. Kopi bubuk instan jelas berbeda dengan ground coffee yang memiliki ciri-ciri antara lain, tidak akan larut dengan air, membentuk suspensi, dan ada endapan pada dasar kopi. Kopi instan yang dapat larut dalam air dan tidak mengendap sama sekali karena biji kopi yang sudah digiling mengalami proses lebih lanjut yaitu ekstraksi dan mungkin sudah ditambah zat-zat pengemulsi sehingga kopi tersebut dapat larut dalam air.

Kopi luwak yang terkenal dengan kelezatan dan harganya yang mahal ini pun berasal dari biji-biji kopi robusta dan arabika pula. Namu biji-biji kopi tersebut sudah difermentasi dan diproses secara alami di dalam perut luwak atau dimakan. Tentu saja biji kopi yang diambil berasal dari kotoran-kotoran luwak tersebut. Ada yang meragukan kehalalan kopi luwak ini karena berasal dari kotoran hewan. MUI sendiri memberi fatwa halal pada kopi luwak dengan standar mutu dan kriteria tertentu. Jelas ada harga ada kualitas. Kopi luwak dinilai lebih nikmat daripada  kopi biasa dan penulis pun setuju. Harga kopi luwak dalam bentuk biji atau belum digiling saat ini masih Rp 450.000 per kg, sementara harga kopi luwak bubuk di Lampung masih Rp 600.000, untuk harga di Jakarta berkisar Rp 700.000 per kg. Dibandingkan dengan harga kopi biasa yang berada pada dikisaran Rp 17.000-18.000 per kg.

Itu lah tadi sedikit kisah dan sejarah kopi hingga dapat sampai ke cangkir-cangkir kita. Mohon maaf apabila ada pada paparan di atas masih ada data-data yang tidak lengkap. Semoga bermanfaat!

Sumber:

http://id.wikipedia.org/wiki/Kopi

http://id.wikipedia.org/wiki/Kafeina

http://finance.detik.com/read/2011/03/08/112551/1586695/4/harga-kopi-melejit-pengusaha-kopi-luwak-tahan-harga

Nasoetion, A.H. 1991. Pengantar ke Ilmu-Ilmu Pertanian. Bogor: Litera Antarnusa.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: