Ke mana Pemerataan?

Ke mana pemerataan pembangunan? Tulisan ini terinspirasi dari seorang wanita tadi siang yang mengalami konflik dengan pengendara motor lainnya di jalan. Terlihat kesal raut wajahnya sambil berteriak, “Astagfirullahaladzim Jakarta!!!”. Sempat terpikir oleh saya, “Iya bu, selamat datang di Jakarta.”. Lagu yang berjudul Siapa Suruh Jakarta pasti pas menjadi lagu pengiring kejadian siang tadi. Lalu ibu tadi pergi, terlihat beras dibawa dengan motornya. Saya pun pergi dari tempat tadi. Setelah itu terpikir, “Iya siapa suruh ke Jakarta”. Seolah selesai, ada pertanyaan yang mengikuti selanjutnya,”Apa yang mengakibatkan si ibu tadi harus jauh-jauh datang ke Jakarta yang keras ini dan meninggalkan kampung halamannya yang nyaman?”. Faktor ekonomi bisa menjadi tuduhan yang pas atas tindakan ibu tadi. Lalu terpikir lagi,” Kenapa harus Jakarta? Kenapa harus Pulau Jawa?”.

Iya kenapa harus Jakarta? Kenapa harus Pulau Jawa? Memangnya ada apa dengan daerah lain? Kenapa mereka tidak bisa mendapatkan pekerjaan di kampungnya? Kenapa dengan pulau lain? Teringat jalan lintas Sumatera bagian timur. Saya beberapa kali melewati jalan itu. Bagan batu-Pekanbaru. Selama perjalanan cukup membuat saya olahraga jantung. Betapa tidak jalannya sempit, hanya dua jalur, dan berkelok-kelok. Belum lagi ditambah gaya menyetir sang pengemudi yang seperti dikejar tsunami padahal kami berada di antara truk-truk besar yang mayoritas membawa minyak sawit. Minyak sawit? Bukannya itu komoditas kebanggan Indonesia? Bukannya itu salah satu penyumbang PDB terbesar Indonesia? Kenapa pemerintah tega membiarkan industri kebanggan kita dengan infrastruktur yang minim ini? Sudah tidak adanya kejelasan dukungan untuk para peneliti di bidang ini. Kebijakan finansial yang menyedihkan alias bunga pinjaman tinggi. Sekarang para pengusaha dibiarkan berada dalam kondisi yang tidak efisien akbiat infrastruktur yang tak layak. Bayangkan ribuan truk bisa lalu lalang di jalur ini tiap harinya di jalur sempit ini, namun tidak ada tanda-tanda pelebaran sedangkan di Jawa apalagi Jakarta, tol-tol baru ramai dibuat. Kemana pemertataan pembangunan? Kemana balas jasa untuk daerah-daerah penghasil uang? Tak heran mereka memilih pindah ke Jakarta dan bermimpi beraharap dapat sesuatu yang akhirnya mungkin menjadi beban tersendiri akibat penuh sesaknya Jakarta. Bagaimana dengan Kalimantan? Tega hutan dirusak begitu saja? Bagaimana infrastruktur di sana? Indonesia Timur? Bagaimana kondisi pelabuhan-pelabuhan di sana? Padahal Indonesia Timur memiliki laut yang kaya. Bahkan ikan kembung yang kita nikmati di Jawa ‘diimpor’ dari papua. Bagaimana kondisi armada-armada laut kita?

Mudah-mudahan ke depannya pemerintah yang sadar, bahwa Indonesia tidak hanya Jawa apalagi Jakarta. Pembangunan jalan-jalan tol atau sarana transportasi umum gak bisa menyelesaikan padatnya Jakarta. Indonesia disokong terutama dari hasil-hasil bumi di daerah-daerah maka bangun daerah-daerah tersebut! Biarkan daerah mereka berkembang! Biarkan mereka mendapat pekerjaan di tanah kelahiran mereka! Agar mereka hidup tenang di tanah kelahirannya masing-masing dan tidak ada lagi teriakan, “Astagfirullahaladzim Jakarta!!!”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: