Kopi Luwak: Yakin dari Luwak?

Assalamu’alaykum wr wb.

Bagaimana kabarnya teman-teman hari ini? Ada yang lagi nugas, ngerjain laporan, atau hal -hal lainnya? Mungkin secangkir kopi bisa pilihan untuk menemani teman-teman semua saat beraktivitas.

Banyak jenis dan macam kopi, salah satunya yang paling terkenal ialah kopi luwak. Bukan hanya karena harga nya yang tinggi tetapi juga cita rasa luar biasa yang dimiliki oleh kopi luwak ini. Tetapi tidak dapat dipungkiri harga yang mahal ini juga disebabkan oleh biaya perawatan “mesin pengolah” ciptaan Alloh yang sangat luar biasa, alias si luwak itu sendiri. Ada permasalahan lain pula, ke-halal-an kopi luwak ini juga dipertanyakan. Sebab, biji kopi yang diambil merupakaan biji kopi sisa pencernaan yang terdapat pada feses binatang mamalia ini. Ada jawaban melegakan dari MUI tentang hal ini. Menurut fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) No. 07/MUI/07/2010 kopi luwak, biji kopi yang dimakan luwak dan keluar utuh dinyatakan halal dengan syarat biji kopi masih terbungkus kulit tanduk da dapat tumbuh jika ditanam kembali.

Namun tetap saja satu pertanyaan dapat terbesit dari pikiran kita “bagaimana kalau kopi luwak yang kita minum tidak memenuhi standar di atas?”. Lagi-lagi ada jawaban melegakan yang sangat berhubungan dengan judul di atas. Kini tidak hanya sang luwak yang dapat menghasilkan kopi luwak. “Luwak Cuma Titip Nama” dan “Musang Absen, Hadir Bakteri” adalah dua judul artikel majalah Trubus edisi 518 yang memancing Rice and Shine untuk menulis artikel ini.

Luwak kini punya saingan, yaitu enzim protease yang dapat kita peroleh dari pepaya yaitu papain dan bakteri asam laktat pada sistem pencernaan luwak. Penggunaan enzim papain ini merupakan penelitian Ir Beni Hidayat MSi dari Politeknik Negeri Lampung. Menurut Hidayat (dalam Trubus, 2013), proses dominan yang terjadi pada biji kopi dalam perut luwak yaitu proses pemecahan protein. Hal ini diperkuat oleh hasil riset PS Jotish dari Tropical Botanic Garden and Research Institut (dalam Trubus, 2013), pepaya merupakan buah yang paling banyak dimakan oleh luwak. Kopi hasil fermentasi enzim papain ini memperoleh hasil terbaik dengan konsentrasi enzim sebesar 0,5% dengan waktu perendaman 48 jam.

Bagaimana dengan aksi para bakteri? Witono (dalam Trubus, 2013), menemukan ada 4 bakteri pada pencernaan luwak yang mampu mengerjakan pembuatan kopi luwak ini di luar perut luwak, yaitu:  Leuconostoc mesenteroides, Leuconostoc paramesenteriodes, Lactobacilus plantarum, dan Lactobacilus brevis. Keempat bakteri tersebut dapat menghasilkan kopi yang sangat mirip dengan kopi luwak dengan waktu fermentasi 18 jam. Hal ini sudah dibuktikan dengan uji organoleptik kopi menggunakan standar Specialty Cofee Association of America (SCAA) dan kopi hasil kultivasi ini mendapatkan poin sebesar 80,50 sedangkan kopi luwak yang asli 84,50.

Penemuan di atas merupakan hal yang sangat hebat tentunya. Selain karena para luwak kini bisa beristirahat dengan tenang menikmati masa liburnya, harga produksi “kopi luwak” menjadi jauh lebih ekonomis. Penikmat kopi luwak -yang beragama muslim terutama- tidak lagi harus was-was dengan kopi ini, karena sudah ada alternatif teknik produksi yang lebih tidak membuat ambigu. 

Ini yang namanya luwak🙂 Lucu juga ya. Kini mereka bisa menikmati liburan.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: