Menjawab Institut Pleksibel Banget

Assalaamu’alaykum semua, bagaimana kabarnya?

Oke, mungkin untuk berbagai kalangan, judul di atas sudah sangat familiar sekali ya. Banyak singkatan  plesetan IPB diluaran sana, Institut Pleksibel Banget contohnya. Bahkan yang lebih dahsyat lagi ada Institut Perbankan Bogor. Ada apakah sebenarnya dibalik kedua singkatan ini?

Ada asap maka ada api. Berkaca dari pribahasa tersebut, pastinya ada penyebab munculnya singkatan-singkatan tersebut. IPB yang notabenenya Institut Pertanian “seharusnya” menghasilkan lulusan-lulusan yang berkecimpung di bidang pertanian. Namun, ternyata banyak lulusan-lulusannya bekerja di bank serta bidang-bidang lain yang “dianggap” terpisah dengan pertanian. Sehingga munculah singkatan-singkatan semacam tadi.

Pertanyaannya, apakah hal tersebut salah? Kalau iya, siapa yang salah? IPB, mahasiswanya, atau tempat yang menerima lulusan IPB bekerja? Oke, pertama kita lihat dari sudut penerima kerja. Bank yang akan saya pilih, karena singkatan Institut Perbankan Bogor terlihat sudah memasyarakat sekali. Memangnya apa yang dilakukan oleh Bank?

Diambil dari Wikipedia (2009), Bank adalah lembaga yang menerima deposit dari nasabah dan menyalurkan dalam bentuk pinjaman. Profit yang diperoleh dari Bank adalah bunga dari pinjaman yang diberikan kepada peminjam. Kalau dalam agama islam, hal ini disebut riba. Lalu bagaimana profit berupa bunga akan diperoleh? Tentunya dari pinjaman yang berhasil dibayarkan beserta bunga-bunganya. Lalu siapa atau apa saja yang diberi pinjaman oleh Bank? Pinjaman bisa diberikan ke perorangan untuk tujuan pribadi atau bisnis dan perusahaan skala kecil hingga besar. Ternyata, usaha-usaha yang banyak dibiayai Bank adalah perkebunan, kelapa sawit contohnya. Hal ini diakui sendiri oleh salah seorang Direktur Bank Mandiri pada acara seminar MAKSI (Masyarakat Kelapa Sawit Indonesia), mohon maaf karena saya lupa nama penulisnya.

Sekarang kita akan sedikit berpikir dengan pertanyaan yang akan saya berikan. Bagaimana anda mengetahui apakah suatu usaha/dagang dapat menghasilkan suatu keuntungan? Apa saja resiko yang dapat terjadi pada kegiatan usaha tersebut? Apa masalah-masalah operasional yang dapat terjadi? Dan apakah orang yang tidak mengerti tentang kegiatan usaha tersebut dapat menjawab pernyaan-pertanyaan yang saya berikan? Logis bagi Bank untuk mengetahui prospek usaha yang akan dia biayai, karena itu menyangkut keuntungan yang akan mereka peroleh. Sebagai pemberi modal ke usaha-usaha pertanian, siapa rekan yang sebaiknya mereka miliki untuk mengatasi pertanyaan-pertanyaan di atas? Apakah seorang dengan background Ekonomi Studi Pembangunan dan Manajemen saja? Menurut saya tidak, Bank harus mempunyai seorang ahli atau sarjana pertanian untuk itu.

Pernyataan ini tentu saja bukan hanya pendapat saya, itu juga yang dikatakan oleh Direktur Mandiri di acara seminar tersebut. Bahkan dia bangga menyebutkan banyak karyawannya memiliki background sarjana pertanian tentunya untuk mengatasi hal ini. Secara logis saja, apakah orang di luar jurusan pertanian dapat melihat kejanggalan pada suatu proposal? Ketika sebuah proposal peminjaman datang dengan usulan untuk membuat perkebunan kelapa sawit di tanah gambut, tentunya orang pertanian tahu apa yang janggal dibalik usulan tersebut dan tentunya akan memberi saran untuk menolak proposal tersebut agar si Bank tidak rugi.

Ada lagi pertanyaan yang mengganjal? Oke ada satu lagi, “Kan mereka selama kuliah belajar tentang pertanian, bagaimana dengan ilmu manajemen, perbankan, ekonomi, dan akuntasi serta ilmu-ilmu yang dibutuhkan sebagai karyawan Bank?”. Ternyata sekarang ini banyak perusahaan yang mengadakan program pelatihan untuk karyawan yang diterimanya dari berbagai background untuk memenuhi standar mereka, contohnya bank. Banyak perusahaan yang sekarang ini lebih prefer untuk meng-hire tanpa mempedulikan jurusannya lalu memberi pelatihan yang mereka kehendaki selama durasi tertentu. Contohnya, program MT (management trainee) di Bank Mandiri, CIMB, dll. Perusahaan Coca – cola juga menerapkan hal yang sama seperti ini. Lagi pula ternyata, setelah bekerja ada perusahaan yang membiayai karyawan mereka untuk sekolah S2. Selain itu, ada lulusan IPB yang sudah mendapatkan tentang analisa studi kelayakan, perencanaan proyek, dan analisa resiko. Sehingga hal semacam ini seharusnya bukan menjadi masalah lagi. Idealnya, dengan keberadaan sarjana pertanian di perbankan dapat mendorong sektor pertanian dari sisi pembiayaannya.

Setelah semua penjelasan saya tentang Bank dan sarjana pertanian, menurut Anda apakah keberadaan sarjana pertanian masih menjadi sesuatu yang mengganjal?

Ada lagi nih yang cukup nyeleneh. Bagaimana keberadaan sarjana pertanian di dunia IT. Karena memang ada beberapa lulusan IPB yang akhirnya bekerja di bidang IT, tapi apa hubungannya? Country Director IBM untuk Indonesia, Tan Widjaya, pada seminar Biztech di Auditorium Abdul Muis Nasution mengungkapkan kalau IT merupakan bagian supporting. Seiring majunya teknologi saat ini bahkan pertanian pun membutuhkan support dari IT. Sehingga sudah bukan jamannya lagi untuk memisahkan IT dengan pertanian. Contohnya: ada aplikasi yang dikebangkan IBM untuk pengelolaan kebun kelapa sawit. Masalahnya sama seperti Bank, untuk memenuhi kebutuhan tersebut siapa yang mengenal kegiatan pertanian selain orang yang mengerti pertanian tersebut atau orang pertanian. Karena Bapak Tan Widjaya sendiri mengakui kalau orang IT tidak mengerti hal itu dan mereka membutuhkan orang pertanian untuk itu. Begitu pula dengan sistem IT yang dipasang di pabrik-pabrik agroindustri baik pangan maupun non-pangan. Tentunya mereka membutuhkan lulusan yang mengerti di bidang tersebut, tidak hanya orang ber-background Informatika atau Sistem Informasi.

Pasar lapangan kerja itu sangat terbuka. Wajar bila perusahaan senang merekrut karyawan yang sesuai dengan spesifikasinya seperti halnya kita senang membeli barang dengan harga dan spesifikasi yang cocok dengan kita.

Lalu apakah IPB  sebenarnya, mengapa tidak 100% lulusan mereka bekerja di bidang pertanian. Tugas perguruan tinggi negeri dijabarkan dalam tri dharma pendidikan, yaitu: Penelitian, Pendidikan, dan Pengabdian Masyarakat. Untuk penelitian sendiri, IPB masih dapat dikatakan handal untuk menghasilkan karya di bidang pertanian. Silakan rujuk ke 104 inovasi indonesia untuk mengetahui hal tersebut. Di antara hasil riset IPB yang terkenal ialah, Pepaya California. Pepaya California sendiri nama aslinya ialah Pepaya Calina hasil pemuliaan salah seorang Dosen IPB. Namanya diganti oleh pedagang dengan alasan agar namanya lebih menjual. Selain itu, banyak varietas-varietas padi yang sudah IPB kembangkan. IPB juga memproduksi vaksin flu burung sendiri. Uniknya ada penelitian dosen IPB tentang peternakan ayam yang dikontrol secara otomatis menggunakan teknologi WEB. Mungkin beberapa tahun ke depan kita akan rasakan bertani seperti halnya bermain Farmville.

Di bidang pendidikan juga IPB masih menghasilkan sarjana-sarjana di bidang pertanian (juga peternakan dan perikanan). Sekedar tambahan, IPB memiliki Fakultas Ekonomi dan Manajemen juga Departemen Ilmu Komputer, yang mungkin menambah banyak alumni IPB di sektor perbankan dan IT. IPB juga masih giat untuk melakukan kegiatan pengabdian masyarakat. Saat ini, IPB mempunyai 17 desa lingkar kampus yang aktif dalam binaan IPB. Selain itu, IPB rutin mengadakan kegiatan tahunan untuk mengirimkan mahasiswa-mahasiswanya untuk melakukan kegiatan pengabdian masyarakat di berbagai desa di Indonesia. Untuk lebih lengkapnya silakan kunjungi website lppm.ipb.ac.id. Dari penjabaran di atas saya masih melihat IPB layak untuk jadi Institut Pertanian dan beroperasi sebagaimana Perguruan Tinggi. Apakah IPB harus ditutup seperti artikel fitnah yang beredar beberapa bulan lalu, saya rasa tidak.

Analisa dari segi mahasiswa. Mau diakui atau tidak, secara jujur kejadian salah masuk jurusan memang nyata. Ada yang alasannya tidak diterima di perguruan tinggi pilihan pertamanya, faktor orang tua, faktor teman, dan hal-hal lainnya. Tetapi saya rasa hal ini tidak hanya terjadi di IPB.  Untuk kasus tersebut dan mahasiswa tersebut akhirnya berkuliah di IPB, tidak dapat dibohongi kalau pertanian memang bukan passion mereka sebenarnya. Apabila kasus ini tetap terbawa selama kuliah, setelah lulus mereka akan cenderung enggan memilih bidang pertanian dan memilih bidang yang mereka sukai. Kalau anda menemui kasus seperti ini, berarti anda sedang hoki. Tetapi jangan lupakan bahwa banyak dari kami yang masih gigih bergelut di bidang pertanian.

Jadi apakah isi artikel saya kali ini cukup menjawab judul yang saya tawarkan di atas? Mungkin ada pembaca yang kurang puas dan bertanya-tanya tentang perilaku Indonesia yang suka mengimpor bahan hasil pertanian padahal sudah ada IPB. Tetapi tulisan saya kali ini tidak bertujuan untuk membahas pertanyaan itu. Harus ada tulisan tersendiri yang membahas pertanyaan tadi dan butuh waktu bagi saya untuk mengumpulkan materi untuk membuat tulisan tadi. Sebagai gambaran umum saja, kita mempunyai perguruan tinggi yang cukup beragam. Ada yang fokus di pertanian ada yang fokus di teknologi. Namun, kita masih mengimpor tidak hanya komoditas pertanian, banyak teknologi yang masih kita impor. Mungkin perguruan tinggi tidak dapat langsung disalahkan untuk permasalahan ini. Saya rasa ada faktor lain yang membentuk perilaku hobi mengimpor kita. Dan saya tidak akan menjawab pertanyaan-pertanyaan di kolom komentar yang memiliki nada serupa dengan pertanyaan tadi.

Oke sekian dulu artikel dari saya. Terima kasih sudah membaca.

Wassalaam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: